Kita Semua Adalah Anaknya (SAW)
Seorang ibu paruh baya tinggal sendiri di sebuah kampung. Sejak ditinggal mati suaminya, ia banting tulang bekerja dua kali lipat dari kebanyakan wanita lain. Ia dituntut untuk memperjuangkan ke 3 anaknya sampai lulus menimba ilmu. Penyesalan akan ketidaksampaian keilmuan ibunya tak ingin terulang oleh para buah hatinya.
Ketiga anak yang beranjak dewasa. Watak berbeda, passion hidup yang beragam dan kisah-kisah lain yang berwarna menghiasi keluarga tersebut.
Anak pertama yang tangguh, cermat , bijaksana, tekun dan disiplin berusaha menjadi pengganti ayah. Anak kedua yang leha-leha, manja, pinter egois, tapi selalu punya keinginan yang luhur untuk membahagiakan cinta pertama yang tak dikejarnya sejak lahir . Anak ketiga yang nakal, liar, bebas tapi darah suara emas ibunya hanya menular kepada dia saja. Ini sungguh tidak adil. Hahaha...
Karakter yang berbeda, passion yang beragam . Yang jelas apapun sifat dan pembawaan mereka di hadapan sang Ibu mereka adalah ANAK IBU. Walau dengan catatan pasti ada satu tempat di hati sang ibu yang khusus untuk salah satu dari ketiga anak tersebut.
Sekali lagi, mereka akan tetap dianggap sebagai ANAK IBU bagaimana pun menyebalkan dan memusingkannya anak tersebut.
Maaf, ini sebenarnya baru prolog nya. Belum ke esensi. Karena pesan yang akan disampaikan sebenarnya bukan curhat. Kiiiw
Timbul dalam benak saya mengenai macam-macam aliran dalam tubuh islam yang sering gontok-gontokan pasea wae, ribut dan bikin laris sosial media. Mereka memproklamirkan atribut keislamannya untuk menegaskan ISLAM.
Yang satu ramah, pemaaf, bijak gak gampang kehasut. Yang satu seenaknya, liar bahkan ngawur. Yang satu lagi egois, gampang ke sulut, over protektif.
Kita hanya berjuang melalui Al Quran dan Sunnah yang dipegang untuk menginterpretasikan islam. Tetapi, kita sangat tak dibenarkan mengklaim diri sebagai interpretasi islam sejati. Hanya para sahabat, tabiin dan generasi yang sudah dicatatkan sebagai generasi terbaik yang pantas melantangkan jargon itu. Tapi mereka sangat tawadlu.
Melihat fenomena akhir-akhir ini, miris sekali dalam satu agama bersyahadatkan la ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammad rasulullah berantem bahkan sampai berperang.
Nak, dek, neng, ade, kakak abang juga (saya sapa) hehe...
Coba kita tengok hadits nabi SAw
عن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أنه قال: ستفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة، كلها في النار إلا واحدة وفي رواية: قيل: فمن الناجية؟ قال: ما أنا عليه وأصحابي رواه جماعة من الأئمة .
Melihat kata أمتي ، أمتي، أمتي dari 73 golongan yang disebutkan oleh beliau dan hanya satu yang selamat beliau meredaksikamnya dengan ummati. Nabi Saw masih menganggap mereka semua adalah ummat nabi Saw .
Kita tak tahu pasti, apakah kita lah yang aswaja atau mereka? Karena pada hakikatnya golongan2 yang lain pun akan mengatasnamakan ahlus sunnah.
Mereka masih bagian dari ummat nabi Saw, tentang keselamatan mari kita berusaha menapaki jalan yang telah diajarkam nabi Saw , sahabat dan para ulama.
Tak perlu saling menyalahkan, tak perlu saling bermusuhan. Tentang keyakinan itu hal yang sulit dpaksakan. Adapun jika kita menilai keyakinan mereka melenceng kita sudah diberikan metode yang benar tentang bagaimana jadilhum billati hiya ahsan. Apakah dengan menghina , mengjelek-jelekkan dan memaksakan kehendak golongan tak sejalan dengan kita mereka akan tersentuh dan terketuk untuk mengikuti kita ? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.
Keberagaman adalah sebuah keniscayaan, tapi kebenaran hanya satu.
Keberagamaan akan indah jika satu sama lain tak gampang mencela dan menghina.
Semakin malam semakin ngawur. Maafkan tulisan anak ingusan yang tak enak hati dengan kondisi saat ini.
Kritik dan saran saya tunggu !
Belajar, belajar itulah qoute saya saat ini.
Ahad, 29 Januari 2017 00.53
Jang May Hubae
Wassalam
Sip
BalasHapusThx u
HapusDilike sebelah mana ya
BalasHapusGak apa, comment aja bro klo suka. Wkwk
Hapus